Telah Lahir: Sang Penari Langit Nasional

dahlan-iskan-manufacturing-hope-148

“Suami saya sudah hilang,” celetuk sang istri.
“Hilang di Sumba,” jawab sang suami.

Ricky Elson, sang suami, kini memang tiga strip lebih hitam dibanding saat tinggal di Jepang dulu. Begitu lama Ricky tinggal di pedalaman Sumba sehingga istrinya merasa tidak kenal lagi saat sang suami pulang ke Padang.

Di pedalaman Sumba memang panas. Dan jarang mandi. Air begitu sulit.

Sudah hampir tiga tahun putra Padang ini meninggalkan Jepang, tempatnya menimba ilmu, mencipta, dan berkarir selama 14 tahun. Ia rela pulang ke Tanah Air memenuhi permintaan saya untuk mengembangkan mobil listrik.

Juga mengembangkan keahliannya di bidang motor listrik untuk segala macam keperluan.

Selama di Jepang Ricky memang tekun melakukan penelitian. Dia berhasil meraih 14 hak paten internasional. Salah satunya yang kini dia terapkan di pedalaman Sumba dengan suksesnya.

Dengan demikian, selama tinggal di Indonesia Ricky sudah berhasil membidani mobil listrik, dan kini terbukti lagi berhasil membangun Taman Listrik Tenaga Angin (TLTA). Murni ciptaan dia.

Kata “ciptaan” ini perlu saya beri penekanan karena unsur terpenting dari unit ini benar-benar karya dia. Generatornya istimewa. Termasuk untuk ukuran dunia. Inilah generator pertama yang hanya menggunakan magnet 200 gram. Bandingkan dengan generator pada umumnya yang magnetnya sampai 1,6 kg.

Bukan saja generator itu nanti lebih murah, tapi juga bisa memberikan keunggulan teknologi: dengan kecepatan angin yang hanya 3 meter per detik generator itu sudah bisa menghasilkan listrik. Ini sangat penting untuk kondisi angin di Indonesia.

Ricky, sebagai putra bangsa, memang bisa lebih membumi: dia tahu daya beli di Indonesia masih rendah sehingga memerlukan generator murah. Dia tahu kalau generatornya mahal maka listrik tenaga angin jadi lebih mahal dari sumber tenaga lainnya, terutama batugana, eh, batubara.

Ricky juga tahu angin di Indonesia itu angin-anginan.

Tiga persoalan itulah yang membuat saya tidak pernah yakin dengan listrik tenaga angin. Tiga hal itu memang tidak terselesaikan oleh perangkat listrik tenaga angin yang selama ini diimpor.

Saya melihat kincir yang dipasang oleh berbagai instansi, di berbagai tempat di Indonesia belum ada yang berhasil. Kalau tidak berputar, rusak, tiangnya sudah hampir roboh.

Ricky sudah lama melakukan penelitian tentang angin. Dia pernah tinggal di pantai selatan Tasikmalaya. Harus naik motor selama enam jam. Dia kos di rumah penduduk. Dia bina anak-anak muda melakukan penelitian yang benar.

Kesimpulannya: untuk Indonesia harus generator dan baling-baling bagus tapi murah. Teknologinya harus cocok untuk angin yang lemah gemulai pun.

Mengapa angin kencang tidak sebanyak di Eropa? Sejak dulu memang begitu, karena kita berada di katulistiwa. Bukan hanya sejak ada iklan tolak angin.

Untuk baling-baling Ricky menemukan bahan pribumi: kayu pinus. Ringan dan kuat. Dia pun membina seorang pengrajin dari Lumajang, Jatim untuk membuatnya. Memuaskan.

Setelah dicoba selama setahun di pedalaman Sumba ternyata sukses. Tidak ada persoalan teknologi sama sekali. Sudah teruji.

Taman listrik Tenaga Angin yang saya kunjungi di pedalaman Sumba, Minggu 5 Oktober lalu itulah yang umurnya sudah lebih satu tahun. Ada 28 kincir angin bergenerator yang ditanam di Desa Kemanggih, Maubaukul, Kabupaten Sumba Timur itu.

. . .

Klik NEXT Untuk LANJUT BACA